Pak Pangat...Semangat!

Akidah Seorang Pekerja Tua Lebih Baik dari Seorang Pintar yang SesatSeorang pekerja tua bernama Bapak Supangat di Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga yang terletak di bawah kaki gunung Merbabu yang sejuk nan indah. Umur beliau sekitar 70-75 tahun. Beliau bekerja sebagai pencabut rumput di area pesantren khas dengan arit kesayangannya selama puluhan tahun semenjak pesantren didirikan tahun 1988.
 
Beliau seorang pekerja polos yang dikenal dengan semangat beliau berbicara bahasa arab dengan para santri dan ustadz. Hingga akhirnya pesantren memberikan sebuah bingkisan penghargaan kepada beliau bahwa beliau adalah satu-satunya pekerja yang berbahasa arab di pesantren. Beliau sering sekali menyapa para santri dan ustadz yang beliau temui termasuk saya.

Hingga pada suatu pagi yang dingin (kira-kira 6 tahun yang lalu), dengan polosnya beliau bertemu saya di jalan dan berkata dengan gaya bahasa arabnya yang khas.

Beliau bertanya: “Barid? barid?” (dingin? dingin?)

Beliau bertanya lagi: “Barid min?” (dingin dari?)

Beliau menjawab: “Min rih” (dari angin)

Beliau bertanya lagi: “Rih min?” (angin dari?)

Beliau menjawab: “Min jabal” (dari gunung)

Beliau bertanya lagi: “Jabal min?” (gunung dari?)

Beliau menjawab: “Min turob” (dari tanah)

Beliau bertanya lagi: “Turob min?” (tanah dari?)

Beliau menjawab: “Min Allah” (dari Allah)

Kemudian beliau berkata: “Kholas” (sudah)

(Saya hanya bisa tersenyum tanpa menjawab satu pertanyaan pun darinya. Saya hanya mengangguk dan membiarkan beliau yang menjawab pertanyaannya sendiri seakan-akan beliau mengajarkan sesuatu kepada orang lain)

Subhanallah, jika Allah berkehendak untuk memberikan hidayah kepada seorang yang Ia kehendaki maka tiada satupun yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, jika Allah berkehendak untuk menyesatkan seorang yang Ia kehendaki maka tiada satupun yang dapat memberikannya hidayah.
Semoga Allah selalu menjaga beliau dalam keimanan dan akidah yang benar. Amin

Dicky Miswardi (Pelajar di Universitas Islam Madinah)
(nahimunkar.com)

Bukan Bualan Belaka


Dalam kehidupan majemuk di dunia ini, seringkali kita disuguhkan 2 pilihan-atau bahkan lebih. Kadang mudah, kadang susah. Kadang, pilihan yang kita pilih harus dibalut luka perjuangan, atau peluh kesah, atau tangis yang mengharu biru. Dan memang, hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk pergi atau datang. Pilihan untuk membenci atau mencintai. Pilihan untuk terus berlari atau berhenti dalam stagnansi. Pilihan untuk berjaya di surga, atau terjungkal dalam neraka.
Sobat, siapakah yang mau mengelak dari surga? Tentu, hanya orang-orang yang berkalang hitamnya kebodohan yang akan berdiri di front terdepan. Kabar buruknya, jumlah mereka banyak. Makhluk-makhluk berjasad manusia, dan berjalan pikiran ala hewan. Bahkan seekor cheetah pun tahu kalau sekerat daging yang ia inginkan, harus ada peluh keringat yang ia korbankan.
Dan kabar gembiranya, tidak semua manusia seperti itu.
Merekalah yang berlari ke pintu surga ketika yang lain duduk malas. Merekalah yang menghiasi wajah-wajah mereka dengan senyuman ketika yang lain mencibir dan mendiskriditkan. Merekalah yang memandang surga dengan kedua mata yang jernih ketika yang lain melihat dengan sebelah mata – atau bahkan tertutup semua. Merekalah yang mengetuk pintu surga ketika yang lain berusaha mendobrak pintu neraka. Dengan darah dan nyawa? Tak mengapa.
Tak usah pergi mencari literatur usang hanya demi mencari suri tauladan mereka. Nama ini sering kita dengar dalam lantunan adzan dan seruan iqomah. Nama ini sering kita baca dalam khusyuknya sholat dan dzikir. Nama ini, siapa yang asing?
Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang yang menyingkap selimutnya, menyibak tirainya, dan pergi ke pasar-pasar dan jalan manusia untuk mengembalikan dataran bumi menjadi datarannya para perindu surga. Konflik, pendustaan, pengusiran, olok-olok, umpatan, tuduhan sebagai dukun, tukang tipu, orang gila, beliau hadapi dengan secarik senyum keyakinan. Imbasnya, para sahabat beliau diusir, diperangi, dibunuh, dan dihinakan. Istri-istri beliau dituduh, diancam, mata rantai penghidupannya diputus, dilukai, dilempar batu hingga gigi gerahamnya terhempas, melihat paman beliau terkoyak perutnya di hadapan matanya sendiri, menderita kekalahan menyakitkan di Perang Uhud, menghadapi perlakuan kasar orang-orang badui, kesombongan orang-orang kaya, kedengkian orang-orang Yahudi, makar orang-orang munafik, dan apa? Untuk apa semua itu?
Tentu, untuk cinta yang berselimut iman, berhias perjuangan. Cinta pada Dzat Pemilik Surga!
Umar bin Khattab harus mengakhiri catatan kecil hidupnya dengan berlumuran darah di mihrabnya setelah sebuah kehidupan yang penuh dengan jihad, pengorbanan, zuhud, wara’, dan penegakkan keadilan di tengah ummat manusia.
Ali bin Abi Thalib ditikam secara licik di masjid justru karena sifat agungnya, peranan yang patut dicontoh berupa cintanya pada Allah, Rasul-Nya, Islam, jihad, dan syahadah.
Syaikhul Islam Taqiyyuddin ibnu Taimiyyah dipenjara dan tidak boleh bertemu dengan keluarga, sahabat, dan buku-bukunya. Tapi justru dengan itu Allah mengangkat namanya di segenap penjuru dunia.
Faishal ibn Abdulaziz, Raja Saudi Arabia kurun 1970-an harus membayar mahal atas keberaniannya meneriakkan kemerdekaan bagi saudara-saudaranya di Palestina dengan beberapa butir peluru yang bersarang di tubuhnya.
Tentu, hanya orang-orang bodoh lah yang melakukan hal-hal di atas tanpa sebab, tanpa alasan.

"Dan tidaklah mereka disiksa melainkan karena mereka beriman pada Allah, Maha Perkasa, Maha Terpuji (Al-Buruj)

Hidup adalah sebuah pilihan, dan seperti itu lah pilihan para perindu surga. Mereka nyata, bukan fiksi atau fatamorgana, apalagi dongeng yang penuh retorika. Mereka bertebaran di sekitar kita. Adakah kita mengambil manfaat?

Hidup adalah pilihan, dan seperti itulah pilihan mereka. Maka, bagaimana pilihanmu? Mengetuk pintu surga, atau mendobrak pintu neraka? 

Bahagia, Memang Apa?





Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, mantan orang terkaya di Jerman tidak akan menabrakkan dirinya sendiri ke kereta api.
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, king of pop USA, tidak akan meminum obat tidur hingga tidur selamanya.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Getúlio Vargas, mantan Presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri
Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, superdiva Amerika Serikat era ’60-an tidak akan meminum alkohol dan obat anti-depresi hingga overdosis.
Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, seorang dokter tersohor asal Prancis, tidak akan mengakhiri hidupnya karena sebuah acara televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya seseorang itu bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, atau cantiknya, kuasanya, sehatnya, atau sesukses apapun hidupnya.
Tapi yang mampu membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri. Mampukah ia mensyukuri apa yang sudah ia miliki dalam segala hal?
Terkadang, kita lebih mengeluh terhadap sepeda motor yang tidak kita punyai daripada bersyukur atas anugerah 2 kaki sehat dan lincah yang kita miliki.
Dan seringkali, kita memilih benci akan lauk makan yang tidak sesuai selera daripada memperhatikan mereka yang bingung mau makan dari mana.
Juga tak jarang, kita lebih jengkel terhadap siklus hidup yang membosankan daripada mencintai secuil nikmat kesehatan yang Allah berikan..

“Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman:16)

Dunia memang luas, tapi ketika sepotong kecil daun hinggap di mata, BLAM! Hitam tak berperi. Dan begitulah hati ketika tertutup karat nafsu duniawi. Semua hitam pekat, seolah bumi sudah kosong dari kebaikan walau sekerat. Hakikatnya? Justru hanya karena secuil ‘karat’ yang melekat.

Jangan tutup mata dengan daun kecil.
Jangan kunci hati dengan kotoran kecil.
Syukurilah nikmat-Nya, meski terlihat mungil.

Beruntunglah kita! Karena bahagia itu bukan komoditi dagang yang bisa dibeli, atau melekat di sebuah tempat yangbisa kita eksplorasi. Ya, kebahagiaan itu letaknya di hati, dan kita tidak perlu membeli atau pergi mencari. Yang kita perlukan hanyalah hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan raga yang selalu bersyukur untuk bisa menciptakan kebahagiaan itu kapan pun, dimana pun, dan siapa pun kita.
Kalau yang tidak ada selalu kita pikirkan, sedangkan yang Allah anugerahkan selalu kita abaikan, maka kapan kebahagiaan itu bisa kita dapatkan? (RG)


Demam Broadcast Jelang Eid


Bukan berarti saya paling bener, paling pinter atau apalah namanyaaa. Bukannya saya sok pengamat, sok intelek, sok paling berpendidikan de-es-be. Tapi saya hanya ingin berbagi saran di hari Eid yang penuh berkah ini O:)
***
Di hari lebaran biasanya di sosial media rame dengan perkataan MAAF, entah itu di FB, twitter, BBM, de-el-el,bahkan sebelum lebaran pun dah mulai nongol. Dan bukan sekadar perkataan maaf biasa, kata-katanya dibikin sangat puitis, berbahasa tinggi, kreatif, dan bahkan ilustrasinya pun juga unik unik dan neko neko. Bagus sih baguss, tapiii.....
***
Ketika bbm mulai pending,
Ketika operator mulai sibuk.
Ketika kaki tak kuat berjalan,
.......*blahblahblah* Gitu sih biasanyaa awalnya. 
TAPI (Sesuai pengamatan saya-dan jujur saya DONGKOL dengan semua ini-_-") kenapa ya rata-rata kata-katanya pada sama semua? Hahhaaa jadi ga jelas kan siapa yg penulis pertamanyaa. :p


Saking banyaknya, mungkin yaa bisa dikumpulin jadiin buku "BEST EID BROADCASTS EVER" hahaahahaaa

***
Saudaraku!!!
Sudah kita tahu bersama bahwasanya kata maaf itu hendaknya dan harusnya berasal dari hati yang paling dalam. Alangkah baiknya sesuatu yang berasal dari hati ini kita ungkapkan, sampaikan, haturkan, utarakan dengan sesuatu yang berasal dari kita pribadi. Mungkin kita bisa mengutip perkataan orang lain, tapi apakah kita bisa tak bisa mengutip isi hati seorang *eaaaaa*. Mungkin kita bisa mengklarifikasi perkataan seorang, tapi kita tidak bisa mengklarifikasi apa maksud hati seseorang...


Kalo kata bang Juki mah ya...
DAN HELLOOOOO GUUYSSSS KALO MAU MINTA MAAF PAKE BROADCAST, GIMANA LU PADA MAU YAKIN TULUUS MINTA MAAFNYA DAN GA' SEKEDAR FORMALITAS BELAKAA? --"



OH LEBIH BAIKNYA GIMANA DONG? LEBIH BAIK MINTA MAAF DGN KATA-KATA SEDERHANA TAPI PROPORSIONAL DAN PERSONAL. DARIPADA BERBELIT DAN DAPET DARI COPY-PASTE :P HEHEHEEE

***
Ingatt!! Tulisan ini saya tulis bukan bermaksud untuk membatasi, menekan, atau bahkan melarang. Karena saya hanya sebatas berbagi saran :)
****
hehe... -290714-









Catatan Hati Seorang Santri


Tidak bermaksud menyaingi, tapi menurut saya itu judul yang tepat untuk tulisan ini. Tidak juga bermaksud untuk mendongkrak elektebilitas saya. Dan juga tidak bermaksud untuk berakrobat status. Tapi saya hanya......ingin bercerita.
Hehe, serius amet,bikin santai aja!!
Tadi siang Ibuku ditanya, begini percakapannya : *aslinya pakai bahasa jawa* 
Orang : Anaknya sekolah dimana bu?
Ibuku : di kota S
Orang : di pondok ya?
Ibuku : iya
Orang : kenapa kok anaknya dipondokin? Anak pondok tu bisanya apa to? Paling ntar gedenya juga 
susah.

···
Kurang lebih bgitulah percakapannya. 
Dulu saudara saya pernah ditanya tentang dimana saya bersekolah, lalu si penanya ini bilang "Ooh di pondok to, pinter bikin Bom ya?".

NJLEB GAN! NYESEK TAU!                

Jujur, hati saya dongkol mendengarnya, tapi kesabaran itu memang berat. Ya kalo dipikir-pikir biasa aja sih kalo dibandingan dg cobaan para nabi dan ulama, tapi sakitnya itu disiniii..haha
···
Saudaraku !! ... 
Zaman sekarang itu wolak walike jaman, yang salah dibilang bener yang bener dibilang salah. Semenjak pertama kali mondok, saya mdapatkan suatu yang mgkin tak saya dapatkan diluar sana, bnyak hal positif yg saya dapatkan.
Tolong deh jangan mencibir kita kita yang lagi menuntut Ilmu Allah.
Anak pondok memang selalu diidentikkan dengan slogan kolot, teroris, atau apalah
yang jelek jelek, tapi saya ngliatnya semua itu kgak bener. 
Senakal-nakalnya anak pondok apa sih? Paling bawa hape..hahaha Kalau saya mau, saya bisa putar balik keadaan disini. Tapi jangan lah, kasian ntar..hehehee
···
Tulisan ini gak bermaksud mendiskriditkan satu sama lain, dan juga tdk mengatakan yang lain salah. Sebab saya hanya sekedar bercerita. 
Itu ceritaku, mana ceritamu?? 
-Saya dan Mukhlis-


Dialog Pintar

Sebutlah namanya Juki (24), seorang buruh pabrik. Kerjanya, ya serabutan. Kalo ga ngangkutin barang, ya menganggur. Tapi di samping itu semua, Juki adalah tipikal orang yang selalu menempelkan keningnya dengan penuh hina dan rasa patuh pada Penciptanya dan selalu menghidupkan malam-malamnya dengan tasbih dan tahmid. Tetangganya, Jono (24), justru adalah seseorang yang Allah lebihkan dari sisi kekayaan. Tampang oke, fulus apalagi. Secara kasat mata, dia lah contoh orang 'sukses' yang diimpikan kebanyakan bani Adam. Akan tetapi, di sisi lain dalam lubuk hatinya, tersimpan bangkai busuk. Bangkai busuk inilah yang menjauhkannya dari Al-Qur'an, masjid, dan ta'allum (menuntut ilmu)
Singkat cerita, negeri mereka menyelenggarakan pemilu. Maklum, sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, hal ini memang wajib di negara mereka selama 5 tahun sekali. Polemiknya, ada salah satu capres yang tidak mementingkan urusan umat Islam,  biarpun Islam adalah agama mayoritas di negara ini. Juki pun bingung... Siapa yang harus ia pilih? Bisakah capres yang ia pilih menganyomi rakyatnya? 
Juki pun mengadukan permasalahannya kepada Jono, karibnya. Apa tanggapan Jono? Dengan spontan Jono mengeluarkan pernyataan sinis,"Elah lu kaku amat dikit-dikit bawa agama!"
Wah! Bagaimana reaksi Juki? Shock? Jelas! AGAMA DINOMORDUAKAN!. Terjadilah percakapan seperti ini, dialog sarat arti tanpa bermaksud menggurui :)
Jono: “Bray...”
Juki: “Naon bro?”
Jono: “Jangan bawa-bawa agama bray”
Juki: “Apanya?”
Jono: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyoblos aja masih aja bawa-bawa agama”
Juki: “Gitu ya bro?”
Jono: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray”
Juki: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gue mesti ditaro dimana?”
Jono: “Maksudnya?”
Juki: “Iya, tolong kasih tau gue, mesti ditaro mana ini Islam?
Jono: “Maksudnya gimana bray? Gw gak ngerti”
Juki: “Iya, kan lo suruh gue jangan bawa-bawa agama kan? Nah gue bingung bro. Kalo gue gak boleh bawa2 agama, Islam mesti gue taro mana? Soalnya Islam mengatur dari mulai gue bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur diatur, masuk kamar mandi diatur, berpakaian diatur, mau makan diatur, keluar rumah diatur, berpergian diatur, bertetangga diatur, berbisnis diatur, bahkan sampai urusan mau 'indehoy ama bini' aja diatur. Bahkan lagi bro, sorry banget nih ya bro, urusan cebok aja ada aturannya! Yang lebih heran lagi bro, itu aturan malah sampe ada doanya segala bro. Bayangin, sampai semuanya ada doanya! Lengkap banget!
*....hening...*
Juki: “Makanya dalam semua urusan, akhirnya gue bawa Islam gue. Nah, kalau gue sekarang gak boleh bawa-bawa agama, sok atuh kasih tau KAPAN dan DIMANA gue bisa lepasin Islam gue?”
Jono: “Errr... Gak gitu-gitu amat kali bray”
Juki: “Iya gue juga tadinya mikir gitu bro. Gak perlu gitu-gitu amatlah. Tapi lama-lama gue perhatikan justru itulah bedanya Islam. Islam itu ya emang gitu bro. Gak cuma ritual yang diatur, tapi cara hidup. Islam memang hadir untuk mengatur hidup kite bro. Emang lo gak mau hidup lo jadi lebih bener bro?”
Jono: “Err ... mmmh .... Ya mau sih bray”
Juki: “Nah! Kalo gitu mesti mau dong diatur ama Islam. Kan lo udah syahadat?”
Jono: “Ya tapi gak usah jadi fanatik gitulah bray, serem dengernya”
Juki: “Harusnya gimana bro?
Jono: “Ya diem-diem ajalah. Masing-masing aja. Kan Allah lebih tau gimana gw ber-Islam. Iya kan?”
Juki: “Iya sih….”
Jono: “Nah iya kan?”
Juki: “ Tapi kebayang ya bro?”
Jono: “Kebayang apa bray?”
Juki: “Iya, kalo Islam memang hanya untuk diem-diem aja, untuk masing-masing pribadi aja, bukan untuk dishare ke orang lain, kira-kira bakal sampe gak ya hidayah Islam ke kita sekarang? Kalo dulu Nabi Muhammad ber-Islam sambil diem-diem aja, buat sendirian doang, bakal nyampe gak ya Islam ke kita bro?”
*…. hening lagi ….*
Jono: “Bray …”
Juki: “Ya bro”
Jono: “Gue cabut dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Dadaaaaaaaah”
Juki: “Loh kok buru-buru bro? Ya udah hati-hati ya bro, Islamnya dibawa terus ya brooo ...” *sambil teriak*
Jono: …….. *gak ada respon, mungkin sudah kejauhan, tp mudah-mudahan masih mau dengar*

:) -230714-


Teach Like Prophet

“Allahu Akbar!”, sebuah teriakan takbir menggelegar di sebuah sudut diskotik di Bali, bersamaan dengan dentuman bom yang memecah keramaian malam itu. Malam itu seolah nyawa dan raga manusia tak lebih berharga dari seekor nyamuk. Berlindung di balik topeng membela agama, mereka bertindak sesukanya bak algojo yang tak kenal lagi apa itu kasih dan cinta. Bukan hanya mereka yang sedang bermaksiat ria yang merasakan imbasnya, tapi juga mereka yang sedang duduk-duduk manis bersama keluarganya. Sering hati kecil ini bertanya, “Bukankah Nabi mereka mengajarkan kasih sayang dan akhlak yang paripurna?”

SEBUAH PROLOG
Ketika peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah), beliau menapaki kota Makkah dengan penuh kemenangan bersama para ksatria muslim. Dan apa yang beliau lakukan selanjutnya? Apakah beliau memerintahkan pengikutnya untuk menjarah kota? Ataupun mengenangi tanahnya dengan darah penduduknya sendiri? Atau mungkin merampok kesucian gadis-gadisnya? Sama sekali tidak, bahkan beliau mengumandangkan sebuah perintah yang mengundang angin kesejukan di tengah rasa takut berlebihan dari mereka yang memusuhi beliau, “ Barangsiapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia aman”.
Maha suci Allah! Bukan kah dalam rentang waktu 20 tahun, rumah Abu Sufyan dijadikan sebagai markas bagi orang-orang kafir untuk mendepak, menekan, dan memusuhi umat islam? Bukankah di dalamnya berdiam seseorang yang telah merobek dada dan perut Paman beliau Shallallahu’alaihiwassalam. Hamzah-radhiyallahu’anhu, mengunyah jantungnya dan mengalungkan ususnya pada lehernya? Dan pernahkah ada dalam sejarah umat manusia, seseorang yang memiliki sikap orang setinggi ini?
Maha benar Allah dengan firman Nya,
  
“ Dan sesungguhnya engkau berada dalam akhlak yang agung” (Al-Qalam : 4)

TELADAN HASIL DIDIKAN SANG PENCIPTA
Bukan sembarang hamba-Nya, bukan sembarang utusan-Nya. Beliau adalah sebuah “Wujud nyata” akan implementasi nilai-nilai luhur yang terancam dalam AL-Qur’an, Firman Tuhan semesta Alam. Didikan langusng oleh-Nya, menjadikan beliau Shallallahu ’alaihi wasallam seseorang yang telah tercetak permanen dalam sanubarinya nilai-nilai keimanan, olah pikir, olah raga, dan olah jiwa. Keteladanan ini timbul dari aplikasi terhadap nilai-nilai luhur yang paling unggul. Tercermin jelas nilai-nilai Qurani dalam jiwa beliau, maka tak heran kalau beliaulah manusia teragung yang pernah ada.
  
“Dari Sa’d bin Hisyam bin Amir, dia berkata,” Aku datang kepada Aisyah dan berkata, “Wahai Ummul Mukminin, beritahu padaku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam. Beliau menjawab “Akhlak beliau adalah Al-Quran” (HR. Ahmad : 2001).

Al-Quran mencanangkan karakter yang terbaik dan banyak selaras dengan nilai-nilai universal. Hubungan seseorang dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alam semesta dan puncaknya adalah hubungan dengan Allah, pencipta Alam Semesta.

BAGAIMAN BELIAU MELAKUKANNYA?
Seseorang itu tergantung agama kawanya. Begitu banyak sejarah yang beliau torehkan dengan tinta emas dalam setiap hembusan nafasnya selama 63 tahun, menyebarkan rahmat dan kasih sayang bersama para sahabatnya di tengah ganasnya padang pasir Arab. Kalau beliau adalah manusia terbaik, maka para sahabat beliaulah yang menjadi pionir-pionir terbaik setelah beliau. Disebutkan dalam sebuah hadits,
“Sebaik-baik manusia adalah di zamanku (para sahabat), kemudian setelah mereka (tabi’in), kemudian setelah mereka (tabi’ut tabi’in)” HR. Bukhari no. 6429
Beliau Shallallahu’alaihiwassalam adaah potret seorang guru teladan yang sukses mencetak kader-kader pilihan yang berkualitas. Bagaimana tidak ? Berawal dari kaum Arab barbar rendahan yang bersujud kepada patung dan menikahi ibu-ibu mereka sendiri, beliau angkat derajat mereka dengan menanamkan kitabullah ke dalam dada-dada mereka hingga menjadi kaum yang shalih dan berperadaban maju. Bagaimana beliau melakukannya?

1.            MENANAM
Pernah ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah, lalu berkata, “ Hai Rasulullah, izinkan aku berzina” maka para sahabatpun spontan menoleh kepadanya dan menghardiknya. Kemudian Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan arifnya menyuruh pemuda itu untuk mendekat. Setelah ia mendekat beliaupun bertanya “Apakah engkau suka bila zina menimpa ibumu?”Pemuda itu menafikan, dan beliaupun menjelaskan bahwa manusia pun tak suka kalau ibunya dizinai kembali, beliau bertanya lagi, apakah engkau suka bila zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu kembalu menafikan, dan beliau bertanya perihal saudari ayahnya (bibinya) dan saudara ibunya (bibinya). Kemudian beliau meletakkan tangannya yang mulia di dada pemuda tersebut, lalu berdo’a. Ya Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak itu pemuda tadi tidak pernah sedikitpun menoleh kedalam kubangan zina kembali" (Riwayat Ahmat, Ath. Thabrani, Al-Baihaqy, dan di shahihkan oleh Al-Albani dari sahabat Abu Umamah)

2.      MENUMBUHKAN
 Suatu hari, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengunjungi Al-Abbas, paman beliau yang sedang sakit. Lelaki itu mengharapkan kematian karena beratnya penyakit yang ia derita. Namun beliau justru menepuk dadanya dan bersabda “Janganlah engkau mengharap kematian wahai Abbas, jika engkau tetap hidup, tentu engkau dapat memperbanyak amal kebaikan, dan hal itu lebih baik bagimu. Dan jika kau tetap hidup, tentu engkau juga bias bertaubat dari sesuatu dan hal itu lebih baik bagimu” (Al-Musnad, VI/ 339)

3.      MENGEMBANGKAN
 Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu, menuturkan pengalamannya tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak mengutusku ke Yaman, aku berkata “Bagaimana mungkin engkau akan mengutusku, sedangkan usiaku masih muda, dan aku tidak memiliki banyak pengetahuan masalah peradilan ?” Ali melanjutkan “Lalu Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menepuk dadaku dan bersabda, “Pergilah, sesungguhnya Allah akan memantapkan lidahmu menunjuki hatimu”. Ali berkata “semenjak itu, aku tidak merasa berat untuk memutuskan di antara dua orang (yang berselisih)” ( Al Musnad, VI/339)

4.      MEMANTAPKAN
 Dan ditahap ini, seseorang diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri dalam bentuk kegiatan nyata, serta bertanggung jawab dalam setiap sikap, tindakan, dan tutur kata.
Salah satu contohnya adalah sabda Beliau “Pelajarilah Al-Qur’an dari 4 orang, Abdullah bin Mas’ud, Salim-mantan budak- Abu Hudzaidah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal” (HR. Bukhori No. 37609-VII/102)


 Subhanallah ! Demikianlah tahapan-tahapan kurikulum dalam sekolah akhlak Rosul kita Muhammad Shalallahu ‘alaihu Wassalam- Tahapan-tahapan pembelajaran yang melibatkan segala ruang lingkup, olah pikir (cerdas, produktif, kritis, Dst). Olah raga (kuat, sehat, tangguh, dll) Olah rasa (kebersamaan, toleran, saling menghargai, dsb) dan olah hati (beriman kepada Allah, jujur, amanah, adil dst) dan dengan ini, lahirlah kader-kader terbaik umat ini yang siap mengorbankan harta, jiwa demi tegaknya panji tauhid di bumi-Nya.

Mengakhiri kesempatan kali ini marilah kita bersama-sama menelaah sebuah perkataan dari seorang imam ahlu sunnah waljama’ah Imam Syafi’i
“Barang siapa yang tidak pernah belajar di masa mudanya
Maka ucapkanlah takbir empat kali atas kematiannya
Hidup seorang pemuda demi Allah adalah dengan ilmu taqwa
Sebab jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada lagi jati dirinya”










Alex Webb: Sang Pelopor

Alexander Web, Da’i Pertama di AmerikaAlexander Russel Webb merupakan seorang sastrawan dan filsuf Amerika, ia dilahirkan pada tahun 1846 di Hudson, Columbia, negara bagian Amerika Serikat. Webb menerima pendidikan awal di Home School di Glendale, Massachusetts dan kemudian memasuki Claverack College, sekolah tinggi yang maju berdekatan dengan Hudson. Setelah itu ia hijrah ke New York dan meniti karir di kota yang dijuluki Big Apple ini.
Di New York inilah jiwa sastrawan yang memang sudah Webb miliki kian nampak. Ia menggeluti dunia pers dan banyak menulis artikel-artikel yang berpengaruh di hati para pembaca. Para pembaca sangat menanti-nanti tulisannya, terutama karya-karya cerpennya yang terkenal sangat menarik. Totalitas yang ia berikan mengantarkannya ke jabatan teritnggi sebagai ketua dewan redaksi surat kabar tempatnya bekerja.
Di tengah-tengah kesibukan Alexander Webb sebagai seorang jurnalis di Missouri Republican, ia tetap menyempatkan diri mempelajari beberapa agama. Ia mempelajari akidah Yahudi dengan berbagai sekte yang ada pada agama tersebut, mendalami ajaran Nasrani dengan madzhab-madzhabnya, dan mempelajari Islam dengan Alqurannya serta warisan-warisan ilmu yang ada pada Islam. Selain tiga agama besar ini, Alexander Web juga mempelajari ajaran Zoroaster, Konghucu, dan Budha.
Keislaman Alexander Russel Webb
Lama bergelut dengan dunia jurnalistik, nama Alexander Russel Webb pun kian terkenal, baik di kalangan masyarakat biasa maupun di tataran politisi dan pejabat negara. Kemampuannya mempengaruhi massa dan pengalamannya dalam memimpin, menjadi alasan pemerintah Amerika mengangkatnya sebagai perwakilan konsulat Amerika di Filipina pada tahun 1887.
Tak disangka, kepindahannya ke Filipina membawa perubahan yang besar dalam hidupnya. Ia menjadi seorang muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di negara Asia Tenggara tersebut. Setelah itu, Webb menambahkan nama Muhammad di depan nama aslinya sehingga namanya menjadi Muhammad Alexander Russel Webb.
Di awal keislamannya, Webb terjebak dalam ajaran Ahmadiyah karena korespondensinya dengan sahabatnya, seorang penganut Ahmadiyah yang berasal dari India. Seiring waktu berjalan Webb selalu menambah perbendaharaannya tentang Islam dengan membaca dan belajar langsung dari para ulama. Akhirnya ia terbebas dari pemahaman sesat Ahmadiyah.
Sultan Abdul Hamid II, Raja Turki Utsmani di kala itu, turut berbahagia dengan keislaman Webb. Sampai-sampai Sultan mengirim utusan khusus, Abdullah al-Jadawi, untuk bertemu dengannya. Pertemuan tersebut berdampak semakin tersebar luas berita keislaman Alexander Webb, dari sinilah ia mulai menjadi da’i di Amerika Serikat (Mausu’ah at-Tarikhiyah al-Jughrafiyah, 12: 55).
Di Amerika, Alexander Webb memulai dakwahnya dengan menulis sebuah artikel tentang latar belakang memeluk Islam. Ia mengatakan, “Aku menjadikan agama ini sebagai jalan hidupku. Setelah lama kupelajari beberapa agama, dan kubandingkan satu dengan yang lainnya, kudapati Islam sebagai agama terbaik bahkan ini adalah agama sejatinya. Islam memenuhi apa saja yang dibutuhkan oleh rohani dan jasmani. Di sini aku tekankan, ketika berusia dua puluh tahun, aku merasa jenuh dan depresi dengan kejumudan gereja, lalu kutinggalkan gereja dan tidak kembali lagi ke sana. Aku memiliki jiwa yang kritis, aku selalu meneliti setiap permasalahan yang kuhadapi. Aku juga menyadari bahwa orang-orang sangat lemah usaha dan pemikirannya untuk mengenali hakikat akidah ini.”
Kontribusi Terhadap Islam
Orang pertama yang menyerukan dakwah Islam di negeri Paman Sam adalah Muhammad Alexander Russel Webb. Di New York, Webb membangun sebuah Islamic Center yang memiliki agenda besar dalam menyebarkan Islam di Amerika. Islamic Center ini juga menjadi sumber bantuan untuk mendirikan masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam. Sumber dana utamanya adalah Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari sinilah Islam di Amerika mulai tumbuh di kota-kota lainnya.
Webb adalah wakil utama bagi Islam di konfrensi agama-agama tingkat dunia yang diadakan di Chicago1893. Pada 20 dan 21 September 1893, ia memberikan dua pidato. Pidatonya yang berjudul: Pengaruh Islam Terhadap Keadaan Sosial dan Semangat Islam telah diterbitkan sebanyak dua jilid besar yang diberi judul The First World’s Parliament of Religions (1894).
Selanjutnya ia menjadi juru bicara bagi Islam di Amerika. Banyak pemikir-pemikir terkemuka Amerika yang telah mendengar ucapannya mengenai pokok ajaran Islam di antaranya Mark Twain.
Wafatnya
Muhammad Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dengan usia lebih dari 70 tahun. Seorang penulis yang bernama Umar F. Abdullah menulis sebuah biografi untuk mengenangnya dengan judul A Muslim in Victorian America: The Life of Alexander Russell Webb.
Sumber: ‘Uzhama Aslamu

GUE ATHEIS

Aku mengalami tahun dimana banyak masalah menerpaku, orang tuaku bercerai tahun itu, anjingku mati, itu merupakan hari menyedihkan, subhanallah.  Aku mengalami dua kali kecelakaan mobil dalam angka dua minggu. Dan hal yang menyedihkan juga, temanku meninggal tahun itu.
Kupikir tahun itu membuatku berpikir “Kenapa aku disni? Apa tujuan kehidupan? Kenapa aku harus bangun di pagi hari? Kenapa aku peduli? Kenapa aku tidak duduk di sofa dan menonton TV saja?”
Dan kurasa aku mulai bertanya tentang hidup, dan hal itu menuntunku untuk memulai sedikit petualangan rohani.
Secara naluriah sebagai orang Australia, hal pertama yang kulakukan adalah meneliti Kristen. Aku punya beberapa teman yang memeluk Kristen dan aku ingat berpergian ke acara camping gereja. Itu salah satu camping terlucu yang pernah kuikuti sepanjang hidupku.
Setiap orang bernyanyi, aku tidak tahu kata-katanya, aku tidak tahu apa yang kuucapkan. Mereka punya suara yang indah tapi terasa aneh. Dan setiap orang berkata padaku bahwa betapa Tuhan mencintaiku, dan aku berpikir “Tuhan mencintaiku? Tapi kok anjingku mati.” Subhanallah.
Jadi aku terus meneliti Kristen dan aku meneliti aspek berbeda dari kekristenan, jadi kita beralih membicarakan tentang Katolik, kita membahas tentang Anglican, Baptist, pendeta, pastor, dan setiap kali aku pergi ke sana dan bertanya, aku perhatikan mereka tidak mengambil Bible dan mulai berkata “Inilah jawabannya saudaraku.” Mereka langsung menawabku saja. Mereka langsung menjawab dari pendapat mereka sendiri.
Dan aku mulai menyadari ada banyak tafsir dari kekristenan dan banyak orang mempunyai penjelasan masing-masing. Seorang pendeta dari suatu gereja percaya akan satu aspek kekristenan, sementara yang lain memiliki pendapat yang berbeda. Jadi aku mulai berpikir, Bible merupakan satu buku tapi begitu banyak perbedaan dan itu membingungkan.
Pada waktu itu aku berada di tahun pertama kuliah, aku juga bekerja di sebuah pom bensin, salah satu kerja paruh waktuku. Dan salah satu teman kuliahku seorang Hindu, orang Hindu dari India. Kita sering berganti shift dan pada saat itu aku sangat ingin tahu, lalu aku bertanya padanya, “Kawan, apa yang terjadi dengan manusia kepala gajah? Mengapa bisa begitu? Kenapa Tuhan itu mempunyai kepala gajah?” Dia menjawab, “Itu Ganesha.” Aku katakan, “Mestinya kau bisa ganti dengan kepala singa atau sesuatu yang sedikit lebih baik?” Ya, ini debat agama sambil melayani orang-orang membeli bensin.
Dan sekali lagi, kurasa doktrin ini susah untuk dipahami. Jadi kuputuskan untuk menganalisis lebih dalam.
Temanku adalah seorang Mormon. Agama ini sebenarnya lebih menarik bagiku daripada sekte-sekte Kristen yang lain. Gereja dari Latter Day Saints. Mereka cukup ketat. Mereka tidak minum alkohol dan tidak juga minum kafein. Tapi mereka suka minum cola, karena yang kutahu Leboz (orang Libanon) suka cola. Tetapi sekali lagi ada pengalaman rohani baru yang harus kujalani sebelum menganut agama ini dan aku tidak suka hanya mendapatkan pengalaman rohani, aku ingin bukti.
Aku juga meneliti Yudaismne, apakah kalian percaya? Namaku sebelum Abu Bakar adalah Ruben. Jadi jika kalian mungkin nonton film Hollywood, kalian melihat Rubenstein, dan mereka mungkin berpikir bahwa aku seorang Yahudi dan “Orang ini adalah salah satu dari kita.” Tapi sekali lagi, aku tidak menemukan apa yang sedang kucari di sini.
Terakhir, aku mencoba Budha dan kurasa ini adalah agama yang akan kupilih, kupikir ini hebat. Banyak orang-orang kulit putih menganut agama ini dan ini membuatku tertarik. Mereka juga tampak bersatu dengan alam dan itu menurutku paling menarik. Tapi semakin aku mendalaminya, kusadari itu bukanlah sebuah agama Tuhan, itu hanya sebauh gaya hidup yang baik.
Dan salah satu teman baikku yang menganut Kristen mengatakan, “Katakan padaku agama yang telah kau teliti.” Kukatakan semua, “Yudaisme, Kristen, Taosisme, Budha, Hindu.” Dia berkata, “Bagaimana dengan Islam?” Kujawab, “Islam?! Mereka teroris! Aku tak akan meneliti agama itu. Mereka gila! Kenapa juga aku harus meneliti agama itu?”
Tapi setelah beberapa waktu, aku berjalan ke sebuah masjid. Ini adalah perjalanan abadiku. Jadi aku berjalan lurus, masih pakai sepatu, terus melewati karpet untuk shalat. Ada saudara muslim yang sedang shalat, aku berjalan di depannya seiring dia bersujud, aku hampir menginjak kepalanya. Subhanallah, aku tak tahu apa yang sedang kulakukan.
Kulihat ke belakang dan kulihat orang ini, kalian mungkin mengenalnya, dia adalah Abu Hamza. Dia datang ke sini dan berceramah beberapa kali. Subhanallah, aku memanggilnya Abu Da’n, karena dia mempunyai jenggot yang sangat lebat, masya Allah.
Dia berjalan ke arahku dan aku berpikir “Hari ini aku akan mati. Ini adalah hari terakhir aku hidup. Aku akan mati. Aku seorang pria kulit putih di Leb-Land (Libanon). Apa yang harus kulakukan? Aku akan mati.
Dia terus berjalan bagaikan berjalan di Gurun Sahara, sebuah abaya (gamis) yang besar, enggot yang lebat. Tapi subhanallah, kata-kata pertama yang dia ucapkan adalah “Selamat siang kawan! Apa kabarmu?” Subhanallah, aku sangat terkejut dengan keramahannya.
Sebagai orang Australia -orang Australia jangan tersinggung- tapi didikanku berasal dari didikan negaraku. Orang tuaku membesarkanku sebagai seorang atheis. Mereka dibesarkan sebagai Kristiani. Mereka terpaksa pergi ke gereja tiap Minggu dan mereka sangat membenci hal itu. Jadi ketika aku dan saudara-saudaraku lahir, mereka menanamkan di otak kami bahwa “Ketika kau mati, selesai sudah. Itu saja. Tidak ada akhirat, tidak ada Tuhan, itu semua bohong. Jadi aku dibesarkan sebagai atheis.
Jadi, ketika aku beralan, aku melihat Abu Hamza dan dia berbicara kepadaku dengan sangat sopan, aku sangat bersyukur. Karena perasaanku aku telah melihatnya tadi di berita jam 5, ia sedang membajak sebauh pesawat di hari sebelumnya.
Orang Australia juga ramah, jangan salah paham, tapi Leboz (Orang Libanon) adalah orang yang ramah yang pernah kutemui. Seiring Abu Hamza berbicara, saudara-saudara muslim yang lainnya membuatkanku secangkir teh. Jujur saja, aku harus bolak-balik ke toilet setiap 5 menit. Mereka terus saja menyediakanku teh dan biskuit. Aku tak pernah dijamu seperti ini sebelumnya. Dan kupikir, di sisi lain, aku terus kembali karena biskuitnya, dan juga karena agamanya.
Jadi, ketika duduk bersama dengan saudara-saudara muslim ini, akupun bertanya. Kutanya segala pertanyaan yang pernah kuajukan kepada pendeta, pastor, dan teman-temanku. Subhanallah, hal yang paling menyentuhku adalah, setiap aku bertanya, mereka tidak hanya menjawab, mereka mengambil Alquran dan berkata, “Baca ini bro.” dan di sana ada jawabannya kapanpun aku bertanya.
Dan aku bertanya pertanyaan lainnya, pertanyaan yang sulit, bukan pertanyaan yang mudah, “Kenapa wanita harus mengenakan jilbab? Kenapa dengan jilbab? Bagaimana bisa aku boleh punya 4 istri tapi wanita tidak boleh punya 4 suami? Aku ingin tahu segala pertanyaan sulit yang merupakan pertanyaan yang akan kalian juga ajukan ketika kalian baru tahu tentang Islam.
Setelah sekian lama mereka terus menjawab pertanyaan dengan Alquran, bukan dari pendapat pribadi mereka dan aku jadi frustasi karenanya. Dan sebenarnya aku berkata pada salah satu saudara muslim. Dalam waktu ini, aku telah bolak-balik ke sana sekian minggu, di sana selalu ada beberapa saudara muslim ketika aku pergi. Dan aku bertanya kepada salah satu satu diantara mereka “Apa pendapatmu tentang masalah ini?” Kenapa kau tidak memberikan pendapatmu? Dan salah satu saudara muslim berkata kepadaku “Aku tidak boleh berpendapat dengan pendapatku, karena ini adalah firman Tuhan.”
Subhanallah, aku ingat hal itu sangat menyentuh hatiku. Aku bertanya, “Bolehkah aku membawa satu buah Alquran?” Dan aku tidak mengatakan bahwa aku akan meninggalkannya di sofa atau semisalnya. Aku akan menghormati kitab ini.
Aku membawa Alquran pulang dan mulai membacanya. Apa yang kutemukan saat membaca Alquran tidak seperti aku sedang membaca sebuah cerita. Itu terasa seperti seseorang memberiku perintah atau petunjuk.
Di suatu malam, aku memutuskan untuk mencoba dan membuat suasana rohaniah. Aku menyalakan lilin, membiarkan jendela dan gorden terbuka. Aku mencoba untuk benar-benar merasakan nuansa rohani. hari itu adalah malam musim panas di Melbourne. Dan aku duduk disana berpikir “Ini dia! Inilah malamnya.”
Aku telah menyelidiki semua bukti rohani, semua bukti ilmu pengetahuan tentang fakta bahwa gunung adalah penyangga bumi, tentang bagaimana embrio berkembang dalam janin wanita semuanya adalah bukti yang menakubkan tapi aku masih butuh sedikit motivasi lagi. Ini terasa seperti aku berada di pinggir sebuah tebing, aku siap melompat, aku hanya butuh sebuah dorongan.
Jadi, aku duduk di sana dan terasa sangat sunyi. Aku membaca Alquran dan berhenti. Aku mengatakan, “Allah, inilah saatnya. Inilah waktunya aku memasuki Islam, apa yang aku butuhkan hanyalah sedikit tanda kebesaran-Mu, sedikit saja, tidak usah yang besar, mungkin sebuah kilat, mungkin setengah rumahku ambruk, atau Kau tahu, yang kecil. Kecil untuk-Mu, Kaulah yang menciptakan bumi, ayolah.
Jadi aku duduk disana, aku sedang menunggu kemungkinan api lilinnya melompat 4 meter di udara seperti di film-film. Dan aku berkata, “Oke, ayolah!” Dan subhanallah, tidak teradi apa-apa. Benar-benar tidak terjadi apapun.
Seumurnya aku sangat kecewa. Aku masih duduk disana dan kuulangi perkataanku, “Allah, ini kesempatan-Mu. Aku di sini. Aku tidak pergi kemanapun. Aku akan memberi-Mu kesempatan kedua. Mungkin Kau sedang sibuk. Ini siang hari, mungkin Kau sedang mengatur dunia karena ada banyak hal yang terjadi. Kali ini mungkin hanya penampakan karpet terbang, Kau tahu sesuatu yang kecil., lupakan saja tentang rumah atau lilin tadi, seekor burung bisa kentut di luar, aku tak peduli, apapun itu. Oke, ayolah.
Dan subhanallah, benar-benar tidak ada apa pun yang terjadi, bahkan aku tidak dapat berkata “Oh itu dia, temboknya jadi retak, itu dia!” Benar-benar tidak ada yang terjadi. Aku sangat kecewa dan cemberut.
Aku duduk di sana berpikir, sudahlah, ini kesempatan terakhirku masuk Islam dan benar-benar belum menemukannya. Namun kuambil lagi Alquran dan kubaca lagi. Subhanallah, ayat berikutnya di halaman selanjutnya “Untuk kalian yang meminta petunjuk, tidakkah telah Kami tunjukkan? Lihatlah di sekitarmu., lihatlah bintang-bintang, lihatlah matahari, lihatlah air. Inilah tanda-tanda untuk orang yang mengetahui.” Subhanallah… Aku menutupi kepalaku dan berpura-pura aku sedang tertidur, setakut itulah aku.
Aku tak percaya betapa sombongnya aku menginginkan tanda yang ku-inginkan padahal sudah ada sekian lama tanda-tanda kebesaran Allah di sekelilingku. Fakta adanya dunia, adanya ciptaan, inilah tanda-tanda bagi kita.
Hari berikutnya aku memutuskan inilah saatnya aku menjadi muslim. Seumurnya aku telah meneliti Islam selama kurang lebih 6 bulan. Aku pergi ke Masjid dan berkata pada diriku sendiri “Inilah saatnya aku akan mengucapkan syahadat.” Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak tahu apa kata-katanya. Hari itu dekat dengan shalat isya, mungkin saja, 7 atau jam 8 malam. Aku masuk ke dalam masjid dan aku tidak percaya ada sekitar 1000 orang di dalam masjid tersebut. Aku berpikir “Subhanallah, lihatlah ini, betapa kuatnya mereka!” Ternyata itu hari pertama Ramadhan.
Jadi aku duduk disana dan aku sangat gugup saat itu. Aku harus berdiri dan seseorang membimbingku “Kau harus mengucapkan kata-kata ini bro ‘asy-hadu‘” Aku katakan “Apa? Ash apa? Bisakah dalam bahasa Inggris saja?” Orang itu mengatakan, “Tidak, kau harus mengatakannya dalam bahasa Arab.”
Aku berpikir, lihatlah semua lautan jenggot ini dan aku harus mengatakannya di depan mereka semua?! Kalau aku mengucapkannya dengan salah, aku bisa mati. Sampai demikian rasa takutku karena image umat Islam. Dan mereka semua menyorotkan pandangan mereka padaku, padahal orang Australia tidak tahan dengan tatapan demikian.
Aku berdiri dan subhanallah, seiring aku mengucapkan kata-kata itu, semua ketakutan menghilang dari pikiranku. Terasa seperti sebuah shower ada dalam kepalaku dan seseorang menyalakan air dinginnya. Terasa seakan-akan aku telah dibasuh bersih. Aku ucapkan syahadat dan aku tak menduga begitu banyak saudara muslim menghampiri dan “Takbir! Allahu Akbar!!” Lalu mereka mulai menciumku dan memelukku. Aku tidak pernah dicium oleh begitu banyak pria dalam hidupku, tapi itu adalah hari yang indah, harus kuakui. Hari itu adalah hari dimana aku mendapat lebih banyak saudara daripada yang kubayangkan.
Keluargaku begitu khawatir bahwa aku akan menjadi sedikit aneh, bahwa aku akan menembakkan AK-47 dan meledakkan granat.  Tapi akhirnya mereka menyadari bahwa agama ini membuatku menjadi orang yang lebih baik dan bisa diandalkan.