Azab FIFA vs Azab Allah

Firman Utina cs boleh jadi sedih, kerja kerasnya untuk membawa Indonesia memenangi pertandingan melawan Bahrain hanya berbuah kekalahan.

Tidak hanya itu kekalahan Indonesia bertambah parah, setelah FIFA berencana memberikan sanksi terhadap PSSI. Pasalnya hanya sebuah mercon.

Kembang Api yang dilesakkan para suporter semat membuat jalannya pertandingan terhenti. Wasit berpendapat ledakan petasan mampu mengganggu konsentrasi pemain.

PSSI pun panik. Penonton panik sampai SBY pun juga panik. Mereka khawatir ancaman FIFA berbuah kenyataan. Para penonton juga sempat melakukan aksi lempar botol ke bench pemain. Oleh karena itu, SBY yang juga ikut menonton pertandingan itu ditengah warga negaranya yang tidak tahu lagi mau makan pakai apa, langsung menegur Kapolri.

 "Presiden bertanya kepada Kapolri bagaimana hal itu bisa terjadi," kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha. “Situasi seperti itu tidak lazim dalam sebuah pertandingan apalagi kualifikasi Piala Dunia," tambahnya.

Polisi pun bergerak cepat. Mereka berhasil meringkus empat orang yang merupakan pelaku pelempar petasan. Tidak hanya itu, sambil membawa empat tersangka, polisi pun mencari tahu siapa yang penjual petasan kepada supporter, ya ditengah polisi yang emoh mencari tahu dimanakah keberadaaan para penjual harga diri bangsa, perampok uang rakyat, calo anggaran, makelar umat, dan perkara besar lainnya yang tidak putus-putus.

Terfikirkah oleh SBY bahwa 100.000 penonton Indonesia saat itupula telah menjadi kafir dengan meninggalkan shalat. Dari ashar, maghrib, Isya, bisa jadi dari dzuhur. Sebagai penonton sepakbola saat remaja, saya tahu betul jika Gelora Bung Karno tidak menyediakan fasilitas air yang memadai. Tidak jarang para penonton buang air kecil tanpa bersuci. Shalat pun susah.
Mengapa? Karena dalam statuta FIFA, tidak ada syarat bahwa sebuah stadion internasional harus memiliki tempat ibadah.. Menariknya pembawa acara televisi dan petinggi PSSI meminta segenap warga Negara berdoa kepada Allah demi kemenangan Indonesia. Kurang ajar betul!

Masih ingat event Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan? Ketika seorang penonton dari Slovenia keluar dari tribun meski pertandingan belum juga usai. Rupanya, ia pergi bukan perkara Slovenia kalah. Sebagai muslim, ia mencari musholla atau setidaknya tempat yang layak untuk shalat, mengingat dalam pantauannya waktu sudah bergerak ke waktu ashar. Melihat orang ini yang tampak kebingungan, penjaga stadion juga ikut bingung. Mereka bergumam dalam hati, “mana ada tempat shalat dalam sebuah stadion?” Ironisnya pendukung Slovenia itu shalat tidak jauh dari toilet.

Lantas pernahkah SBY dan Kapolri memikirkan ini. Mereka meringkus para penonton yang tidak shalat dan memberhentikan pertandingan karena kumandang azan. Rasanya mustahil, karena para ustadz juga menggelar nonton bersama dan menunda waktu Isya. Sedangkan Kyai yang kuat menyuarakan penegakkan Syariat Islam seperti Abu Bakar Ba’asyir justru dijebloskan ke penjara.

Ada-ada saja memang Negara ini. Pertandingan olahraga yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemajuan bangsa, lebih-lebih umat dibicarakan layaknya sebuah fenomena kiamat. Televisi mengundang berbagai macam pembicara. Profesor ikut campur, Anggota DPR tidak mau kalah, kampus, sekolah, peramal, bahkan da’i ikutan berbicara.

Di Barat sendiri agama adalah benalu. Sepakbola adalah alat pemotongnya. Akhirnya, kita bisa saja melihat pertandingan sepakbola lebih ramai dari Gereja. “Manchester United is My religion and Old Trafford is my church,” kata fans MU. Di Indonesia lebih sadis lagi, “Walau harus mati di tengah lapang, Jak Mania selalu berkorban.” Jadi wajar saja stadion lebih semarak dari masjid. Mesjid dibikin ramai, namun ada asalnya. Asal dibarengi dengan majelis untuk mencari kekuasaan.

Kini yang ikhwan dan akhwat ikut larut dalam sepakbola. Di FB mereka mengajak teman-teman sepengajiannya untuk ikut mendukung Timnas. Ketika ditanya apa dalilnya, mereka enteng menjawab, “Sudah perintah atasan, akh, ukh…”

Tapi sepakbola memang perekat nasionalisme. Ideologi kufur yang menyatakan ikatan terkuat antara umat manusia adalah kebangsaan. Piala Dunia sendiri kali pertama terselenggara, justru pasca enam tahun runtuhnya Khilafah Islamiyah. Tahun 1930 adalah tonggak pertama FIFA melaksanakan Piala Dunia. Kala itu Uruguay menjadi tuan rumah sekaligus juaranya.

Di Indonesia, Nasionalisme sendiri menjadi mazhab dan keyakinan untuk dipertahankan di atas Islam. Zuhairi Misrawi, pada acara provocative proaktif, jum’at lalu, menyebut bahwa ikatan kebangsaan adalah ikatan terkuat ketimbang ikatan agama (baca: tauhid). Bahkan kemarin, Setara Institute, merilis survey mengenai respon masyarakat terhadap Ahmadiyah. Hasilnya menurut mereka masyarakat Indonesia menganggap penganut Ahmadiyah tetap sebagai saudara sebangsa meski bukanlah saudara seiman.

"Masyarakat Indonesia mampu memilah yang mana sisi keagamaan dan yang mana sisi kebangsaan," kata Ismail Hasani dalam jumpa pers kemarin. Disni kita mesti hati-hati, karena penelitian itu bergantung bagaimana worldview yang dibangun oleh periset dalam membangung kerangka pertanyaan. Apalagi Setara Institute, yang Tuhannya memang orang putih.

Padahal nasionalisme itu berbeda dengan Iman. Karena bagi Nasionalisme, benar dan salah bergantung kesepakatan sebuah bangsa. Sedangkan Islam benar dan salah adalah ketetapan Allah. Dalam Nasionalisme, warganya diharuskan berdiri jika mendengar lagu kebangsaan. Di Islam ada riwayat ketika Rasulullah saw. berang melihat para sahabat menyambutnya dengan berdiri.

Sekarang, pasca kekalahan para pemain Timnas mogok main. Mereka merasa kurang sreg dengan pelatih. PSSI pun meminta agar FIFA tidak menurunkan sanksi. Itu baru masalah mogok pemain dan sanksi FIFA. Bagaimana jika Allah mogok mengakui kita sebagai hambanya dan memberikan sanksi mengingat ajaranNya dikalahkan hanya oleh sebuah nasionalisme dan kulit bundar. Ya nasionalisme sepakbola yang telah membuat kita sesama muslim bertikai; Indonesia-Malaysia. Mesir-Aljazair. Maroko-Tunisia.Jadi mengapa kita lebih takut sanksi FIFA, sedangkan sanksi Allah tidak? Allahua’lam.

Tulisan ini ditulis setelah kekalahan Indonesia dari Bahrain dengan skor 0-2 pada 6 September 2011 dalam kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia. - eramuslim

Mengertilah

Indonesia, negara yang mengakui keberadaan 5 agama. Sangat memungkinkan kalau kita bersahabat dgn mereka yg berbeda keyakinan dengan kita. Saling menghormati menghargai harus dijunjung diatas segalanya demi menjaga kerukunan sesama warga Indonesia.

Ah serius bener pembawaan gue kek juri Master Chef. Oke gue coba lebih nyantei lagi ngobrolnya..

Jadi, siapa aja disini yang punya temen, sahabat, pacar beda agama? Yang ga mungkin lo sakitin perasaan-nya atas dasar apapun?

Ada sedikit cerita nih tentang 2 pemuda beda agama yang sahabatannya kentel banget, ampe lengket kemana mana saking kentelnya.. kaya pe….. (udah lupain)

Sebut aja yag 1 namanya Ozil (Muslim), yang 1 namanya Cristiano (Nasrani). Alkisah....

Tanggal 24 Desember 2011 (tahun kemaren), 2 sahabat ini sorenya maen bola bareng, pulangnya minum es orson bareng di Warung Mpok Yanti Cimeng.

Mereka ngobrol sambil becanda, si Ozil ngomong ke Cristiano.. “Pokoknya elu sahabat gue sampe kapanpun bro!” Ronaldo pun ngejawab, “Iya bro, pokoknya ampe di Roxy Mas ga ada tukang HP lagi lo bakal tetep jadi sahabat gue!”

Karna udah mau Maghrib, mereka buru-buru pulang. Ozil pengen sholat ke masjid, Ronaldo pengen kumpul sama keluarga (maklum malam Natal).

Biasanya tiap malam Ozil melipir ke rumah Ronaldo buat sekedar ngopi-ngopi lucu gitu. Tapi karena rumah Ronaldo rame Ozil cuma nonton OVJ aja di rumah.

HP Ronaldo ga berenti bunyi dapat SMS atau telpon , ucapan ‘Merry Christmas’ dari sodara & temen-temennya yang 1 keyakinan (Nasrani). Tapi tiba-tiba Ronaldo murung...... Sesekali juga ada SMS yg isinya “Ini mama lagi dikantor polisi, tolong isi pulsa mama..”. Tapi bukan SMS ini yang bikin Ronaldo murung..

Ternyata dia galau karna ga dapet ucapan ‘Merry Christmas’ dari si Ozil, sahabat terdekatnya.. Akhirnya dia langsung telpon si Ozil, dia bilang..

Ini percakapannya:

Ronaldo: Bro, gimana kabar lo?

Ozil: Alhamdulillah baik, bro..

Ronaldo: Lo ga ngucapin ‘Merry Christmas’ ke gue?

Ozil: Engga bro.

Ronaldo: Lo kan sahabat gue!

Ozil: Agama gue menghargai toleransi antar agama, termasuk agama lo. Tapi masalah ini, agama gue melarangnya......

Ronaldo: Tapi kenapa? Kan cuma sekedar kata-kata ? Teman Muslim gue yang lain, ngucapin selamat natal ke gue?

Ozil: Mungkin mereka belum tau bro....

*mahligai persahabatan ini hampir diujung tanduk. Kalo mereka musuhan, gimana nasib Warung Es Orson Mpok Yanti Cimeng?*

Ronaldo: Belum tau apa?

Ozil: Bro, lo bisa ga ngucapin dua kalimat syahadat?

Ronaldo: Engga, gue ga bisa.. Itu bs mengganggu kepercayaan gue..

Ozil: Kenapa? Itu kan cuma kata-kata? Ayo, ucapkanlah!

Ronaldo: Sekarang, gue ngerti.. Kenapa lo engga mau ngucapin selamat natal ke gue..

Dengan penjelasan & pengertian, akhirnya persahabatan mereka tetap terjaga hingga Yanti Cimeng pun lega..

Semoga bisa diambil hikmahnya, dialog cerdik tanpa menyakiti tulisan @rawkvicky. :D

Bangkai di Balik Hijab (2)

Pada tahun 1990 bertepatan dengan 1411 Hijriah majalah ASA (Assabiqunal Awwalun) edisi 5, 1411H, menurunkan sebuah kisah berjudul “Pasien Terakhir“. Tulisan berjumlah tiga lembar ini menuturkan kisah seorang mahasisiwi Syiah di Bandung yang mengidap penyakit seksual akibat kebiasaan nikah mut’ah.
Hal itu terungkap dari kecurigaan seorang Dokter bernama Hanung menangani sang korban. Awalnya sang dokter merasa heran ketika seorang mahasiswi yang lebih cocok dipanggil ukhti itu, mengeluh merasa sakit di sekitar (maaf) alat kelaminnya. Usut punya usut ternyata hal itu terkait dengan sebuah pengajian.
Apa hubungannya penyakit kelamin dengan pengajian? Rupanya ukhti tersebut telah akrab mengikuti pengajian aliran Syiah yang memang mengiming-imingi pahala dengan nikah mut’ah. Ia pun bergonta-ganti bersama pasangan-pasangan Syi’i lainnya lengkap dengan titah bahwa mut’ah tidak bertabrakan dengan agama. Abu Abdullah berkata, "menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan.". Begitu bunyi ayat di Al Kafi, sebuah kitab panutan aliran Syiah.
Kisah ukhti berkerudung lebar ini pun sempat dilaporkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) kepada Kejaksaan Agung dan seluruh gubernur. Semoga kejadian yang menimpa wanita berkerudung lebar tersebut bisa menjadi ibrah bagi kita. Jangan melihat Syiah dari janji manisnya, tapi selami ajarannya.
Untuk tidak berpanjang kalam, berikut kami tampilkan kisah lengkapnya. Selamat membaca.
***
Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).
Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka di kakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Di sebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan acne vulgaris (jerawat) yang ia alami.
Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu persatu pasien berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucapkan salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Di pojok ruang, terdapat sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.
Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat dan bercadar. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter
Hanung membuka amplop hasil laboraturium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboraturium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin seorang wanita berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan sexksual.
Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.
+ “Saudari masih kuliah?”
- “Masih dok.”
+ “Semester berapa?”
- “Semester tujuh dok.”
+ “Fakultasnya?”
- “Sospol”
+ “Jurusan komunikasi massa ya?”
Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.
- “Kok dokter tahu?”
+ “Aah,….tidak, hanya barangkali saja!”
Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.
+ “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?
Pasien terakhir itu nampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.
- “Ada apa sih Dok…..kok tanya macam-macam?”
+ “Aah enggak,……..barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita.”
Pasien terakhir ini tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.
- “Saya dari Pekalongan.”
+ “Kost-nya?”
- “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63.”
+ “Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa?”
- “Ya,..kadang-kadang Dok.”
+ “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”
Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.- “Bang Jalal siapa?” Tanyanya dengan nada agak tinggi.
+ “Tentu saja Jalaluddin Rachmat, Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia….kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin.”
- “Yaa,…….kadang-kadang saja saya ikut.”
+ “Di Pekalongan,……(sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”
Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai. Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata.
- “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…………..”
Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.
+ “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini.”
- “Sakit apa dok?” Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat Penasaran.
+ “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboraturium semuanya menyokong diagnosis gonorhe, penyakit yang disebabkan hubungan seksual.” Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,
“Tidak mungkin!!!”
Dia lantas terduduk di kursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandangan matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi. Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jeritan pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.
Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkit perempuan-perempuan nakal.
Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah.
Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada di depannya sore itu.
+ “Bagaimana saudari… penyakit yang anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya ini tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti anda. Kalau itu masa lalu anda baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah,….atau mungkin ada kemungkinan yang lain,…?”
Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.
- “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya !” Katanya terbata-bata.
+ “Terserah saudari,…….tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”
- “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?”
+ “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,….tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri.”
Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasiennya itu.
+ “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,…….. sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut.”
- “Tidak dokter,…….selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at Islam,…..saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter.”
Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasiennya. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisisnya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi,……..
+ “Barangkali anda biasa kawin mut’ah?? Pasien terakhir itu mengangkat muka,
- “Iya dokter, Apa maksud dokter”?
+ “Itu kan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas."
- “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam dok!" Pasien itu membela diri.
+ “Ooo,…Jadi begitu,…kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut ajaran Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau Anda ingin selamat”.
- “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut Syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis.”
Sampai di sini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasiennya yang tidak mempunyai aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.
+ “Terserah apa kata saudari membela diri,… anda lanjutkan petualangan seks anda, dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu, kalau anda menghendaki kesembuhan!”
- “Ma..maaf, Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!” Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasiennya yang terbata-bata itu.
+ “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,… sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti.”
- “Ba…baik , Dok, …Insya Allah akan saya hentikan!”
Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhir itu, kemudian menyodorkan kepadanya.
- “Berapa Dok?”
+ “Tak usahlah,….saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan dari Rasulullah. Saya relakan itu untuk membeli resep saja.”
Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung.
- “Terima kasih Dok,…….permisi.”
Perempuan itu kembali melangkah selangkah demi selangkah di pelataran rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang seakan menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai di gerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang ditelan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran di sore itu. RTF

Bangkai di Balik Hijab (1)

Minggu 5 Oktober 1997 - Harian Media Indonesia, menurunkan sebuah berita mengenai kehidupan mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani nikah mut’ah sebagai sebuah doktrin dalam Syiah.
Kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, tentang kesesatan ajaran Syiah yang tidak hanya cacat secara akidah, namun juga dipenuhi kejangggalan dalam perkara syahwat biologis.
    Anehnya, sekalipun perkawinan berlangsung dalam jangka waktu tertentu saja, serta dapat dilakukan tanpa ada saksi dan wali ini banyak ditentang kalangan agamawan, namun masih tetap banyak pasangan yang melakukannya. Bahkan, saat itu kawin kontrak telah pula merambah kehidupan kalangan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.
Meskipun, bila diamati, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa yang melakukan kawin kontrak adalah para penganut aliran Syiah. Harian Media Indonesia pun kemudian mencoba mengurai pelaku nikah mut’ah yang tidak lain sepasang mahasiswa Yogja.
      Tengok saja pengakuan Ani –bukan nama sebenarnya- mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta yang telah dua kali menjalani kawin kontrak. Menurut wanita yang saat itu berusia 24 tahun, menyatakan bahwa bujukan dari pasangannya lah yang telah mampu meluluhkan hatinya untuk melakukan kawin kontrak.
     Ceritanya begini. Sekitar tahun 1992 saat baru memasuki jenjang kuliah, ia jatuh cinta pada kakak kelasnya, sebut saja Adi. Penampilannya yang sopan serta ketekunan ibadah lelaki pujaannya itu, semakin mempertebal rasa cinta wanita ini. Ibarat gayung bersambut, ternyata sang kekasih memiliki perasaan yang sama. Maka ketika Adi menyatakan cintanya, kesempatan itu tentu saja tak disia-siakan begitu saja, ia pun langsung menerimanya dengan sepenuh hati.
     Rasa cinta mereka pun semakin hari semakin tumbuh subur. Tak ayal setiap ajakan dan permintaan pacarnya selalu dituruti. Bukan apa-apa, sebab ia sudah menganggap pacarnya itu bukan orang lain lagi. Waktu pun terus berlalu. Sekitar enam bulan sejak mereka pacaran. Ani diajak pacarnya untuk masuk ke dalam sebuah kelompok pengajian Syiah. Kala itu ia tidak menolaknya sedikitpun. Apalagi Ani, anak kedua dari dua bersaudara ini masih merasakan kurang dalam ilmu agama.
     Awalnya, ketika baru beberapa kali mengikuti pengajian ini. Ia merasakan ada perbedaan ajaran Syiah dengan apa yang pernah didapatnya di bangku sekolah dulu. Tapi, segala prasangka buruk segera ditepisnya, karena ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Adi, pacarnya itu tak akan menjerumuskan dirinya dalam kesesatan.
     “Saya sempet bertanya kepada Adi, tapi ia menyuruh saya agar pasrah dan ikhlas”. Kenang Ani.
      Tak lama berselang, kurang lebih satu tahun sejak mereka bergabung dalam kelompok ini, tanpa diduga Adi mengutarakan isi hatinya untuk melakukan kawin kontrak dengannya. Pasalnya, sesuai dengan apa yang diajarkan Imam pada aliran Syiah ini, perkawinan dapat dilakukan dengan cara kawin kontrak. Dalam keyakinan Syiah, langkah ini ditujukan untuk menghindari diri dari godaan nafsu biologis serta perbuatan zina.
     Yakin akan pengajaran itu, Ani pun menerima ajakan pacarnya itu. Acara Ijab kabul segera dilaksanakan. Mereka berdua sepakat untuk menjalani kawin kontrak untuk jangka waktu satu tahun.
     “Saat itu tak ada lagi keraguan. Saya malah senang karena kebutuhan kami, baik lahir dan batin dapat terpenuhi tanpa melanggar larangan agama”. Ujar mahasiswi yang kini sedang menjalani ujian skripsi ini.
      Padahal, menurutnya kalau dibayangkan saat itu, entah bagaimana sikap orang tuanya seandainya mereka tahu langkah yang telah dijalaninya. Bagaimana tidak, kawin kontrak itu dilakukan tanpa persetujuan serta saksi orang tuanya. Sebab, menurut kelompok ini saksi dapat diwakili oleh ketua kelompok serta orang-orang yang hadir saat itu.
     “Orang tua tidak wajib datang atau menjadi saksi. Ada yang mewakili sebagai saksi saja sudah cukup”. Ungkap wanita itu dengan enteng.
     Setelah satu tahun berlalu, rasa bosan mulai timbul di hati kedua insan ini. Mereka pun sepakat untuk tidak meneruskan ikatan perkawinan yang telah dijalani keduanya sejak satu tahun silam. Ani pun kembali menjalani kehidupannya tanpa seorang kekasij di sisinya.
     Tapi, ini tak berlangsung lama. Dan ternyata kekasih barunya itu tak lain adalah adik kandung Adi sendiri, mantan “suaminya” yang dulu. Alasannya, Ani telah merasa cocok dengan lingkungan keluarga Adi.
     Bisa diduga, keduanya juga melakukan kawin kontrak dengan jangka waktu satu tahun. Dan seperti sebelumnya, kawin kontrak ini pun hanya berumur satu tahun saja.
     “Saya tidak menemukan kasih sayang seperti yang diberikan kakaknya, sehingga setelah satu tahun saya memutuskan tidak meneruskan lagi” tambah anak seorang pengusaha yang bergerak dibidang kontraktor ini.
    Sebenarnya, selama ia menjalani kawin kontrak tak sedikit gunjingan yang diterimanya. Namun diibaratkan, ‘masuk kuping kanan keluar kuping kiri’, tak satupun gunjingan itu yang digubrisnya. Tetapi, lama kelamaan mereka ini merasa dikucilkan teman-temannya, dan Ani pun merasa stres, terlebih sejak ia pisah dengan ‘suami’ keduanya.
      “Saya mulai dijauhi teman-teman kost, mereka tampak sekali menjaga jarak”. Katanya dengan sedikit terbata-bata.
      Untungnya, sikap teman-teman serta dasar agama yang dimilikinya waktu kecil mampu menuntunnya untuk meninggalkan kebiasaan kawin mut’ah. “Akhirnya, saya memutuskan untuk menjauhi kehidupan yang selama ini telah saya lakukan itu”. Tutur wanita yang tampak tegar akan keadaannya itu. Alhamdulillah - ATF

Cinta di Balik Rumah Bilik Kayu


Banyak orang yang tega membuang bayi yang masih hidup dengan banyak alasan. Malu karena sang bayi lahir di luar pernikahan, atau.. takut karena tidak punya  biaya untuk menghidupi sang bayi. Tapi tahukah Anda, seorang pemulung di China mampu mengadopsi 30 bayi yang dibuang. Inilah kebesaran hati Tuhan yang kadang tak mampu dirasakan semua orang. Akan tetapi, masih ada orang-orang di luar sana yang masih memiliki nurani untuk mengulurka tangan mereka, mengurus bayi-bayi polos nan malang itu.


Ya. Nama wanita ini adalah Lou Xiao-ying, usianya saat ini 88 tahun. Dia telah mengadopsi 30 bayi sejak tahun 1972. Apakah wanita tua ini merupakan seorang konglomerat nan kaya raya sehingga mampu untuk mengadopsi sekian banyak jiwa yang bersih itu? BUKAN! Ya, bahkan untuk mengasapi dapur, wanita tua ini hanya berjalan di jalan-jalan China untuk memulungi sampah-sampah, sedangkan suami Lou Xiao-ying telah meninggal 17 tahun yang lalu. Keadaan hidup yang sulit dan keterbatasan ekonomi tidak mengecilkan hati Lou Xiaoying untuk berbuat baik pada sesama manusia. 

Walaupun usianya sudah menua, kebaikan hati Lou Xiaoying tidak surut dimakan usia. Anak adopsi yang paling muda saat ini berusia enam tahun, namanya Zhang Qilin. Lou Xiaoying menemukan bayi tersebut di tempat sampah. Dengan kondisi yang lemah, wanita itu membawa sang bayi ke rumahnya yang sangat kecil untuk dirawat. "Kini dia sudah menjadi anak yang sehat dan bahagia," ujar Lou Xiaoying.

Sementara itu, anak adopsi pertama ditemukan Lou Xiaoying di jalan, seorang bayi perempuan. "Ia terbaring di antara sampah di jalan, terlantar," kenang wanita tua itu. Dengan keterbatasan Tidak semua bayi yang ditemukan dan dirawat Lou Xiaoying terus bersamanya hingga dewasa. Beberapa di antara mereka diadopsi keluarga yang lebih mampu.

"Saya tidak mengerti mengapa orang-orang tega meninggalkan bayi selemah itu di jalan," ujar Lou Xiaoying. Baginya, bayi-bayi tersebut adalah makhluk hidup yang berharga, mereka seharusnya mendapat kasih sayang dan cinta.

Kisah ini mulai menyebar ke seluruh China dan mendapat perhatian dunia. Seseorang yang simpatik terhadap Lou mengatakan bahwa pemerintah, sekolah, dan masyarakat China yang tak berbuat apa-apa seharusnya malu pada Lou. “Dia tak punya uang atau kekuasaan, tetapi mampu menyelamatkan anak-anak dari kematian dan kondisi yang lebih parah,” ungkapnya.

Kisah nyata ini membuktikan bahwa kebaikan hati seseorang tidak dapat dinilai dengan materi. Seorang pemulung sampah yang kehidupannya sulit bisa memiliki hati semulia emas. Sebaliknya, ada di luar sana orang orang yang telah diberikan kepadanya pundi-pundi harta oleh Allah, sehingga barang tentu membeli n asi bukanlah suatu hal yang sukar baginya. Tapi, di sini hidayah yang berbicara. Hidayah yang akan menuntun, baik si kaya maupun si miskin. Baik si muda maupun si tua. Baik si presiden ataupun si rakyat.

Jadilah manusia yang berguna untuk orang lain. Jangan menunggu materi atau kesempatan. Hati mulia yang akan menuntun Anda. Alangkah indahnya perkataan utusan Allah Muhammad,"Janganlah kau meremehkan kebaikan walaupun hanya seutas senyum"

Siapa Bilang Masuk Neraka Itu Murah?



SUARANYA sedikit serak dan matanya berkaca-kaca. Ia menuturkan betapa gembira istri dan anak-anaknya waktu mereka diajak makan malam di sebuah restoran di Bandung Utara. “Rasanya sudah lama sekali saya tidak berbincang-bincang dengan istri dan anak-anak saya,” tuturnya.
“Sekali-sekali makan di luar bersama keluarga sangat menyenangkan. Istri dan anak-anak saya kelihatan sangat berbahagia. Anak-anak saya banyak bercerita tentang berbagai kegiatannya dan juga banyak bertanya tentang berbagai macam hal. “Yang terpenting, kata teman saya itu, biaya untuk membahagiakan keluarga ternyata murah, tidak mahal”.

***
Lalu ia membandingkan dengan berbagai kegiatannya sebelumnya.
Ia bukan pemabuk, hanya sekali-sekali ia mabuk, kalau kelewat batas meminum minuman beralkohol. Pada restoran sedikit di atas kelas menengah, satu gelas single Whiskey dan Tequila adalah Rp 30.000. Kalau ingin gaya sedikit, sebotol Champagne harganya lebih dari Rp 1 juta.
“Dengan uang sebanyak itu, saya dapat membahagiakan istri dan anak-anak saya untuk makan-makan di restoran lebih dari lima kali,” katanya.
Ia juga bukan penyanyi, tetapi ia pintar menyanyi dan suaranya lumayan bagus. Pernah ia berseloroh, “Kalau saya lelah jadi pengusaha, saya akan menjadi penyanyi”. Biasanya, ia minum-minuman keras di karaoke. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa ruang karaoke kelas VIP adalah Rp 1 juta dan untuk lebih meriah ia menyewa pemandu lagu (PL) dengan harga Rp 200.000 per jam.

“Mas tahu sendirilah,” katanya. “Seringkali saya kebablasan. Dari ruang karaoke pindah ke kamar hotel”. Jumlah uang yang dihamburkannya dalam semalam, menyamai gaji guru besar dalam sebulan.
“Itu belum seberapa mas,” katanya. Suaranya terdengar bangga namun terselip ada nada pahit. “Pada diskotek yang elite dan mewah, teman saya menyewa hostes dua juta tiap jamnya. Dan Mas dapat memperkirakan berapa besar uang yang harus dibayar teman saya kalau ia membawa hostes itu ke kamar hotel.”
***
“Itu adalah bagian dari masa lalu saya Mas,” tambahnya. “Kini saya kembali ke pangkuan keluarga. Kembali kepada istri dan anak-anak saya.”
“Mungkin inilah yang dinamakan hidayah,” katanya dengan mata menerawang jauh. “Saya hampir bangkrut karena judi. Mula-mula hanya iseng, recehan, seribu dua ribu rupiah, agar main gaplenya lebih serius. Namun, sekali lagi saya kebablasan, sebagian perusahaan saya sudah hilang dalam perjudian itu. Saya diselamatkan oleh rasa letih yang luar biasa, saya istirahat dan berhenti berjudi sehingga tidak semua perusahaan saya lenyap”.
Saya hanya sedikit berkomentar, untunglah ia tidak seperti Pendawa Lima yang menjadikan negara sebagai taruhan dalam perjudian dan Pendawa Lima kalah.
“Ya, untunglah saya tidak seperti Pendawa Lima. Masih ada harta yang tersisa untuk hidup bahagia,” katanya sambil menarik napas lega.
“Hidup ini aneh,” tambahnya. “Semua yang saya lakukan dahulu itu, seperti mabuk-mabukan, melacur, dan berjudi, adalah tiket menuju neraka yang menyengsarakan. Kenapa lumayan banyak orang mau membeli tiket ke neraka yang harganya sangat mahal?”